Suatu hari nanti aku akan jadi seorang pemberani. Berani untuk berkata "sudah, selesai.". Suatu hari nanti aku pasti mewujudkannya. Aku ingin bahagia. Bagun pagi dengan senyum di wajah. Memulai hari dengan semangat yang timbul karena happy, bukan semata karena kopi. Aku ingin kerutan di dahiku ini hilang, sampai nanti memang waktunya ia berkerut karena usia. Bukan karena derita. Suatu hari nanti aku akan menatap mata anakku dengan cinta yang penuh lalu berkata mantab, "mama berdoa supaya kamu selalu bahagia menikmati hidup, seperti mama". Suatu saat nanti aku pasti bisa bangga dengan diriku sendiri. Benar-benar bangga karena akhirnya aku menemukan jalan yang tepat, dan berani memilih jalan tersebut untuk berbahagia.
semuanya adalah tentang saya.
Ingin membunuhnya
Lalu menyimpan tubuhnya hanya untuk saya..
Menyimpan hatinya ditempat rahasia
Tak ada yang tau kecuali saya…
Membelah otaknya, mengurai isinya
Lalu isi ulang penuh-penih dengan: saya.
Biar tak ada lagi yang bisa dipikirkannya
Selain saya.
Apa yang bisa saya lakukan
Agar dia merasa seperti yang saya rasa
Kecuali dengan membunuhnya,
Menyimpan tubuhnya,
Menyembunyikan hatinya,
Lalu mengisi ulang otaknya
dengan Saya..
saya benci melihatmu beramanya!
..kamu seharusnya disini, bersama saya…
Labels: patah hati
Saya masih tak tertarik dengan komitmen. Trauma saya dibuatnya. Dari awal saya mulai berhubungan dengan lelaki, saya tak pernah tertarik dengan komitmen. Bagi saya komitmen itu tak ada gunanya. Sama sekali tak ada gunanya.
Suatu waktu dalam hidup saya, untuk pertama kalinya saya temukan lelaki yang bikin saya merasa jadi perempuan seutuhnya: cengeng, dan berhati. Ya, berhati, mempunyai hati. Percaya pada hati. Padahal tak pernah saya percaya pada hati. Hati selalu membuat realita menjadi bias, bayangannya pun tak kelihatan jika hati sudah berdiri menantang. Saya lebih memuja otak, yang selalu membawa saya pada jalan yang benar. Jika sudah otak yang memutuskan, saya tak pernah menyesal menjalani sesuatu. Tidak seperti saat saya berhati. Saya menyesali, sampai saat ini.
Hati yang menggoda saya untuk percaya padanya, dan dengan bodohnya saat itu saya ikut saja. Hati merasa saya cinta pada lelaki itu, lalu berbisik pada saya untuk memulai sesuatu yang baru, membujuk saya agar pelan-pelan merubah mind-set yang selama ini dikuasai otak, memanggil harapan untuk berkolaborasi membius saya.....untuk berkomitmen.
Saya pasrah saat itu, saya ingat benar, hati tertawa. Mengubah background hidup saya yang tadinya hanya hitam, putih dan merah (simbol yin, yang, plus fearless menurut saya) menjadi penuh warna dan bunga. Saya bahagia. Berterima kasih pada hati yang bisa berbuat sedemikian indah pada hidup. Tak menyangka, sama sekali tak menyangka ada banyak warna lain dalam dunia.
Tapi...
ketika kenyataan tiba2 muncul, menunjukkan pada saya bahwa ada perempuan lain yang meratui hidup lelaki saya saat itu, hati membuat saya sakit! Hati bikin saya menangis berjam-jam, diam tak bergerak bermenit-menit, kesakitan merasakan akibat perbuatannya pada saya. Lalu harapan, yang tadinya selalu bersama hati, hilang pergi begitu saja. Melepas semua tanggung jawab yang sudah diperbuatnya. Saya tak sempat menoleh padanya, tak sempat saya perhatikan, apakah harapan meninggalkan saya sambil tertawa keras, mensyukuri saya yang terperdaya.
Saya tak mau lagi percaya pada hati. Tak akan! Tak juga akan memberikan kesempatan pada harapan untuk mengujungi saya meski hanya untuk sekedar menyapa. Huh! Tak usah saja. Saya akan baik saja dengan otak dan realita. Saya tak mau tertipu untuk kali kedua.
....kemarin, ada lelaki yang mengajak saya berkomitmen. Saya lihat ada hati dan harapan tersenyum manis bersamanya. Saya langsung muak. Bukan karena lelaki itu, tapi karena melihat senyuman hati dan harapan. Saya usir mereka, saya tak mau berjumpa.
Entah apa yang dirasakan lelaki itu saat saya bilang tak mau berkomitmen dengannya. Yang penting, saya masih bersamanya. Tanpa hatipun, saya bisa bahagia.
Labels: patah hati
“There’s nothing you can say, there’s nothing I can do”.
Buntu.
Biasanya saya tak menyerah, tapi kali ini, rasanya mau mati. Sendiri.
Ya tentu saja..dia yang saya maksud, tidak akan mau menemani saya mati. Menemani sewaktu saya hidup saja dia tak mau, apalagi menemani saya mati. Makanya, saya mau mati. Sendiri.
Saya jadi sering bertanya, apakah nanti jika saya mati, sendiri, dia masih tak punya apapun untuk dikatakan? Tak juga rasa menyesal karena telah menyingkirkan saya dari antrian panjang untuk bersamanya? Tak juga rasa iba karena tak pernah berhasil membuat saya pergi darinya sebentar saja meskipun telah menyakiti dengan semua cara? Saya selalu kembali padanya. Tak mau pergi dari hidupnya. Cara apalagi yang bisa kau coba? Saya jamin, tak akan berhasil. Tak percaya?
Apakah nanti, jika saya mati, sendiri, dia masih belum menyadari bahwa sayalah sejati? Bahwa sayalah yang paling mengerti? Bahwa selama ini dia bersama perempuan-perempuan yang tak punya arti?
Nanti, jika saya mati, sendiri, ingin rasanya tetap ada dalam hidupnya. Tetap berada disebelahnya. Hey, bukannya nanti jika saya mati, saya bisa bebas kemana saja? Diatas pohon, dipekuburan, dirumah tua kosong, …atau terus ada disampingnya. Saya tak akan lagi mengganggunya, dia bisa tetap bersama siapa saja. Perempuan-perempuan yang tak punya otak dan harga diri. Perempuan-perempuan yang tak akan mengerti. Perempuan yang sedang bersamanya saat ini.
Nanti, jika saya mati, sendiri, dia mungkin tak akan tau, dan tak akan terganggu lagi.
Saya hanya ingin bersamanya selalu. Tidakkah kau tau?
-Sometime in June 2008-
Labels: patah hati
Hey baby..
how is it going in your life at the time? Things are going not so well without you here. Kamu tau kan, saya paling benci yang namanya dibatasi. Dalam hal apapun. But you know what? Rasanya jadi “hilang tanpamu” sekarang. Seperti tak ada lagi yang bisa membatasi. Semua saya yang urus sendiri. Heran? Ya, pasti kamu akan berkata: lho bukannya sebelum bersamaku kamu memang begitu? Merasa tak butuh orang lain dalam hidup, bisa mengatasi semuanya sendiri, merasa jadi perempuan paling kuat didunia..
well baby, I was wrong.
Ketika kamu tak ada lagi disini, saya melemah. Tersadar jika kamu adalah penambah kekuatan dalam hidup saya, saya mengaku kalah. Untuk pertama kalinya saya mengerti pentingnya tebatasi. Untuk akhirnya, saya mengerti pentingnya ada kamu dalam hidup saya.
I lost baby, saya tersesat. Kemana saya harus berjalan setelah ini? Selama ini setelah kau tak ada lagi, saya hanya diam. Bukan karena saya tak tau apa yang harus dilakukan, tapi saya tak tau untuk apa dilakukan. Diam, tak bergerak, seperti habis batere pada diri saya.
Saya kira saya tak mungkin seperti ini, merengek pada hidup, meratapi nasib, bertanya terlalu banyak mengapa. Meskipun saya tau, sebanyak apapun saya bertanya, tak mungkin jawabannya muncul kemuka saya. Mencoba berfikir realis seperti biasanya, tetap tak membuat kamu berkurang dalam otak, malah semakin rumit rasanya isi kepala saya ini. Saya jadi mengerti sumber inspirasi orang2 menciptakan lagu2 yang dulu saya anggap cengeng. Dari hati. Untuk pertama kalinya saya tau bahwa hati benar exist adanya.
This post-brokenheart things memang benar2 merepotkan saya. Setengah mati saya coba bangun dari sini, sekuat tenaga saya coba untuk bergerak, mencoba mengingat yang biasanya saya bisa lakukan sebelum ada kamu dalam hidup saya. Tapi setiap moment yang terlintas tiba2, setiap tempat teristimewa, setiap lagu yang kebetulan terdengar, setiap koran pagi yang saya baca, semua melemahkan niat saya. Saya melemah, tanpamu. Dan tanpa lagi rasa malu, saya mengaku.
Teringat alasanmu untuk pergi, karena saya tak cukup ada disana bukan? Karena itu kamu buka duniamu untuk perempuan lain yang bisa tiap saat hadir disana. Diduniamu yang tak pernah cukup saya mengerti, yang tak pernah cukup saya tau. Saya bilang “saya tak akan pernah rela” saya bersungguh tak akan bahagia untuk kalian berdua. Saya tak percaya dia bisa membuatmu bahagia. Mungkin saja bisa, tapi tak bisa bertahan lama. Saya bukan berdoa untuk itu, baby, saya yakin saja. Seyakin bahwa kamulah orangnya. Seyakin bahwa kamu tak akan ada gantinya. Seyakin bahagia saya saat kamu ada dalam hidup saya. Seyakin saya pada dunia yang tak akan terus meletakkan saya dibagian bawah saja. Seyakin saya bahwa kebahagiaan akan terus bersama kamu dan saya. Tanpa dia.
Saya tidak benci padamu, baby. Tidak juga pada perempuan itu. Saya tak benci pada apapun yang terjadi pada kamu dan saya. Saya hanya ingin melihatmu bahagia, meskipun tidak bersama saya. Hingga mungkin suatu saat saya bisa ikut bahagia meliatmu bersamanya.
Saya ingat kamu berkata “dia tidak bersalah”. Ya, dia tak mungkin salah, karena dia tak kenal saya, karena dia tak tau apa-apa, karena dia tak tau mengapa dia bisa memikatmu sehingga meninggalkan saya. Ya, saya tau, dia tak bersalah. Dan saya, tidak menyalahkannya atas kepergianmu meninggalkan saya, untuk bersamanya.
Baby, setiap benci dari pikiran saya, setiap caci yang keluar dari mulut sahabat2 saya, setiap usaha untuk membuatmu tak ada, tidaklah nyata bagi saya. Yang nyata hanya hampa. Yang terasa hanya tak ada. Ketidak adaanmu di dunia saya.
I'm lost without you, baby..
saya kangen kita..
19 Januari 2009
Labels: patah hati
Ternyata sumber air di mata saya masih ada
Selama ini hanya tersumbat saja
Dengan batu yang keras seperti baja
Ketika batu itu terkikis akhirnya
Air mata tak bisa berhenti keluar
Lepas
Tumpah semua
dia yang mengikis sumbat itu
dengan keputusannya
untuk terbang entah kemana
-28 Desember 2008,
sehari sebelum tanggal lahirnya.
Labels: patah hati
baru kali ini saya pajang karya orang lain diblog saya..
..saya speechless, tak bisa berkata, tak bisa berfikir, tak bisa bergerak.
Lagu ini, tepat merepresentasikan yang saya rasa saat ini..
Blur-No Distance Left to Run
It's over
You don't need to tell me
I hope you're with someone who makes you
feel safe in your sleep
and tonight
I won't kill myself, trying to stay in your life
I got no distance left to run
When you see me
Please turn your back and walk away
I don't want to see you
'Cause I know the dreams that you keep
That's where we meet
When your coming down, think of me here
I got no distance left to run
It's over, I knew it would end this way
I hope you're with someone who makes you feel
That this life is a life
One who settles down, stays around
Spends more time with you
I got no distance left to run
Labels: patah hati
14 November 2008.. saat ku mulai meragukannya..
Biarkan aku tetap menjadi aku
bebaskan aku memaknai hidupku
lihat caraku mewarnai hidup, berikan komentar apa saja
nikmati gayaku tertawa, bermain, dan gembira
ini aku.
Ini hidupku.
Biarkan aku menjadi aku
jangan paksa aku merubah sesuatu
atau memang sebenarnya bukan aku yang ada diotakmu itu?
Lihat lagi dengan hati
ini aku, bukan yang kau ingini
masihkah akan ada kita kini?
Labels: patah hati
..keadaan ideal.. hanya muncul dalam mimpi atau dalam pengharapan yang terlalu besar, padahal ia adalah sesuatu yang ternyata tidak bisa exist selamanya. Bisa saja ia muncul, tapi hanya sebentar, tidak mungkin berlama-lama. Karena manusia memang tidak pernah bisa bersyukur dengan apa yg sudah dipunya, kita bisanya mengeluh dan meminta lebih. Ini salah satu buktinya, saya yang selama ini merasa punya kemampuan untuk bersyukur dan berkecukupan, ternyata masih saja tidak puas dengan realita.
Saat saya merasa cukup lalu berniat untuk fokus pada salah satu diantara pria2disekitar saya, saya berharap pria yg saya seriusi ini berfikir dan bertindak sama seperti saya. Merasa cukup dengan satu pasangan saja. Tapi lihat, disaat saya merasa cukup pun saya menginginkan lebih. Mengapa tidak bisa saya bersyukur saja, karena akhirnya menemukan pria hebat yang bisa dilimpahi sms gombal, bisa ditelpon berjam-jam, dimarahi saat sedang PMS dan butuh pelampiasan, digunakan saat hasrat tak bisa ditahan. Mengapa harus berharap dia akan berfikir dan melakukan hal sama pada saya?
Lalu saat pria itu berperilaku tidak seperti yang saya harap, saya kecewa. Lalu menyalahkan dirinya, lalu mengasihani diri saya sendiri. Tetap saya susah untuk berfikir bahwa mungkin sayalah yang salah, saya yang membuat harapan terlalu tinggi, saya yang menghiasi harapan terlalu indah, saya yang merasa kurang disaat merasa cukup, saya yang berfikir setia itu ada.
Gitu deh. Bagi saya, kesetiaan itu memang tidak pernah ada. Kata sahabat saya, itu cuma bentuk keadaan ideal dari sebuah hubungan. Kata saya, realitanya kesetiaan itu tidak exist. Sama sekali tidak. Hilang sudah bagian-yang-memunculkan-pikiran-positif dari otak, terhapus pula beberapa harapan dari sana. Sudah.
Ada yang bisa bantu saya berfikir dengan benar, tidak?
Labels: patah hati
Ouch it hurts..
Deal with the real. Pengharapan dan pemikiran yang jauh dari imajinasi. Keluar dari jalur kenyataan. Salah jalan. Harus memaksakan diri kelar dari labyrinth otak, padahal sudah jauh saya berjalan.. dan berlari. Fuck! I hate this. Benci untuk mengaku kalah. Benci untuk mengalah. Benci harus mundur lagi, mengingat-ingat jalan keluar dari sini.
Fight. Lawan yang saya tantang bukan kelas rendahan. Saya harus maju lawan kenyataan.. senjata andalan saya remuk dikalahkan. Ego saya babak belur, tak bisa bertahan. Saya kalah. Menyerah pada realita.
Time heals. Saya butuh waktu. Untuk bantu saya sembuh. Dimana waktu? Tak bisakah saya bertemu? Rasanya seperti terjebak ditengah. Tanpa waktu, tanpa apa.
Labels: patah hati
Apa yang bisa menentukan
siapa yang memutuskan
benar atau salah
yakin atau tidak
jalan atau berhenti saja
menangis atau tertawa
sedih atau bahagia
sungguh saya tersiksa..
Jangan tolong saya
saya yakin saya bisa
sendiri memilih jalannya
Meskipun terluka, berdarah, dan tersiksa
saya tidak akan menyerah
sampai nanti bertemu arah
Sungguh saya tersiksa...
Labels: patah hati
Aku yang membencimu dengan teramat sangat,
Menginginkanmu untuk segera sekararat
Agar kau mati saja dan hilang dan pergi
Agar kau berhenti tersenyum, berjalan, tertawa, atau berlari
Tanpa henti
Dalam otak, jiwa, bahkan mimpi.
Aku yang membencimu teramat sangat,
Tapi masih menyebutmu dalam karyaku…
…bangsat!
Labels: patah hati
"dengan rela untuk melepaskan sesuatu yang
kita miliki,mengakui segala keterbatasan yang kita
miliki dan melepaskan semua keinginan kita untuk
sesuatu yang lebih mulia, kita akan mendapatkan
sesuatu yang jauh lebih besar..."
tulisan itu dikirimkan pada saya oleh orang yang "terpaksa" saya lepaskan.
Saya melepasmu dengan keharusan. Saya akui keterbatasan yang saya punya.
Saya lepas keinginan saya....Entah untuk apa tujuannya.
untuk sesuatu yg lebih mulia atau malah tidak. Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih
besar atau malah tidak.
Saya tidak merasa menemukan kemuliaan dari melepaskanmu.
Sebab saya belum menemukan kebahagiaan yang saya lepas bersamaan dengan
lepasnya kamu dalam hidup saya.
Kamu rasa saya rela melepaskanmu dengan keharusan?
Saya tidak rela.
Labels: patah hati
Pernah tidak kau merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia tetapi sekaligus menjadi orang yang paling bahagia di alam semesta?
Saya pernah.
Beberapa hari yang lalu saya mendengar perempuan yang merebut pria saya.... sebenarnya tidak benar-benar merebut, pria saya berpaling dari perempuan kurus, tipis, dan jauh dari manis (saya) kepada perempuan itu yang supermanis, seksi, dan berisi. Sudahlah. Pokoknya saya mendengar perempuan itu gagal meraih nilai bagus untuk tugas akhirnya. Saya bahagia.
Hari ini saya mendengar perempuan lain yang merebut pria saya yang berbeda dari pria sebelumnya.... sebenarnya tidak benar-benar merebut, pria saya berpaling dari perempuan berani, liar, dan sangar (saya) kepada perempuan itu yang kalem, lembut, dan penurut. Sudahlah. Pokoknya hari ini saya mendengar bahwa perempuan itu telah berbuat salah sehingga dibenci dengan kebencian yang amat sangat, oleh dosen yang berpengaruh pada tugas akhirnya. Saya bahagia.
Saya bahagia diatas penderitaan mereka setelah mereka tertawa bahagia disetiap derita yang saya rasakan waktu pria-pria yang saya sayangi dengan segenap hati tiba-tiba meninggalkan saya demi mereka yang jauh lebih segalanya dari saya. Saya tertawa.
Pernah tidak kau merasa sedih yang teramat sangat, sehingga saat kau menjadi orang yang paling jahat di dunia karena berbahagia atas derita yang dialami orang lain, tapi malah menjadi orang yang paling bahagia di alam semesta?
Labels: patah hati
Saya terlanjur memposisikannya sebagai “pegangan” dalam hidup saya. Nahkoda pada kapal saya. Driver pada mobil balap saya. Imam dalam kedamaian hidup saya. My happiness. My life. Bayangkan, betapa besar arti seorang dia bagi saya.
Tapi ternyata dia tidak cukup kuat untuk saya serahi jabatan tersebut. Dia tunjukkan hal-hal indah dalam hidup, hal-hal baru yang positif. Dia ajarkan pada saya bagaimana menjadi orang yang lebih baik. Kemudian dia tinggalkan saya.
Sendirian. Tanpa tujuan lagi. Tak tahu harus kemana.
I was lost without him.
Tapi kemudian saya bangkit. Saya sadar bahwa untuk apa saya mempertahankan orang yang tidak cukup kuat untuk saya pegangi?
Mungkin saya ditakdirkan untuk tidak berpegangan pada seseorang, mungkin saya ditakdirkan untuk berdiri sendiri tanpa bantuan. Mungkin saya memang jauh lebih kuat dari dia sehingga dia berubah menjadi yang lemah ketika saya memeganginya. Kemudian dia menjadi tidak kuat saya pegangi. Kemudian dia pergi meninggalkan saya.
Mi Feo, one day, if you ever read this, you’ll realize. Bahwa cinta saya buat kamu adalah sangat besar dan kuat. Tak tergantikan. Tapi cintamu buat saya (yang entah pernah eksis atau tidak) adalah sangat mudah untuk digantikan. I’ll find someone some day, who’s much stronger than you. And you’ll feel sorry for your self at that day, because you’ve ignored a woman like me.
A woman like me.
Labels: patah hati
To the sun of mine
I have burned my self in the sun, again.
I feel my heart burned by the sun, again.
My hand burned when I touch
My eyes blind when I see
My skin numb when it came closer…
But I enjoy with scared smile on my face
Everytime the fire burns my skin
Every pain that torn my heart up
I wounded, I know.
I enjoy with my bleeding eyes closed
Every lick of the fire
Every wound that happen
Every tear of mine…
Minutes, hours, days
My heart, my brain, my soul
Bleeding like it never stop
I burn it in the sun,
Again.
Labels: patah hati