ini surat saya, buat seorang sahabat baik. Semoga bisa jadi inspirasi buat yg lainnya jika kalian ternyata punya jalan hidup yang mirip. Hey, at least, you're not alone...
Bitch,
Believe me, I know how you feel..
Saya tau rasanya bertahan pada satu hubungan yang –sebenernya kita tau- itu ga sehat. Mengesampingkan realita yang –sebenernya kita aware- untuk percaya bahwa harapan itu pasti terwujud. Saya tau banget.
Ya itulah bitch.. yang kita kira realita, ternyata sama sekali bukan. Itu cuma harapannya kita. Mimpinya kita doang ternyata. Kita.. yg selama ini ngaku realis, ternyata terjebak juga ya sama mimpi.. Tanya Fraud, ini termasuk alam bawah sadar atau engga? Ini memang unconsciousness, atau kitanya yang terlalu terobsesi ama pengharapan yg kita buat sendiri?
Hmmm… pengharapan vs realita. Duel maut bitch.
Kamu ga akan bisa berbuat apa2.. menghujat dia, menghujat keluarganya, menulis yang terburuk tentang perempuan itu, membuang semua pemberiannya, menangis, teriak, bercinta dengan banyak pria lain, pergi keluar kota, atau bunuh diri sekalipun, tidak akan membuat kenyataannya berubah.
Believe me, yang terberat bukan jika suatu hari kamu bertemu perempuan itu, atau membayangkan betapa dia jauh lebih hebat dari kamu. Yang terberat adalah mengaku kalah, dan menerima kekalahan itu. Tapi itulah tugasmu sekarang. Deal with it.
I’ve been there, and I survive.
We’re the super bitch, so I know you’ll make it too.
Don’t make any “someday I will”, or “someday he will” karena itu akan bikin pengharapan baru tentang kamu, dia, atau dia..
And you know that the other bitchez are gonna be around anytime you need us.
I love you, we love you… so fight, bitch!! Fight!!!
semuanya adalah tentang saya.
Labels: friendship
Aku tak tahu alasan apa yang tepat untuk menjelaskan situasi ini. Jika kalian bertanya seyakin apa aku padanya, hanya ada satu jawaban yang akan keluar dari mulut jahatku ini : saya yakin. Seyakin-yakinnya.
Dia.
Hmmm bahkan menulis sesuatu tentang dia pun aku kesulitan. Terdiam tiba-tiba. Padahal biasanya lancar sekali aku memikirkan kata-kata, menuliskannya, atau mengucapkan kata-kata itu langsung pada orang yang dituju. Well, tidak padanya.
Dia bikin aku diam. Tapi dalam diam itu pula aku berlompatan. Jungkir balik, tertawa terbahak-bahak, bertepuk tangan sekerasnya, mengangkat tangan keudara, membiarkannya bebas. Serasa dalam diam pula, ada angin semilir meniup wajah. Pelan, lalu lama-lama jadi nyaman.
Dia bikin aku tak perlu repot berkata-kata. Dia ajari aku menjelaskan dengan diam. Mungkin kalian tak akan paham, tapi dia tau maksudku. Dan itu, adalah lebih dari cukup untukku.
Jadi, ketika kalian bertanya seyakin apa aku padanya, jawabannya akan tetap sama : seyakin-yakinnya. Tak perlu panjang menjelaskan mengapa aku yakin. Tak perlu alasan untukku menjadi yakin. Aku dan dia tau yang sebenarnya. Kami menyimpannya hanya untuk kami saja. Lalu kami diam.
My friend once said, sometimes you don’t have to have any reason to do something. Sometimes it just happens, you just can’t help yourself into it. And that’s what happening to me at the time. I don’t have any explanation of why I care about this guy so much. All I know is that I want to be with him all the time.
all
the
time.
..for good.
Labels: jatuh cinta
“Janji-janji yg terbatalkan, even2 penting yg terlupakan, moment special yg tak dapat dihadiri…”
..yang tertulis di balasan sms dari sahabat saya ketika saya bertanya, “resiko apa yang mungkin akan terjadi padaku karena menjadi pasangan seorang wartawan?”
Yup. Pasangan (meminjam istilah sahabat saya itu untuk menyebut seseorang yg sangat dicintai dan diharapkan ada untuk selamanya bersama) saya adalah kuli tinta. Wartawan. Manusia super, bahasa saya, karena kerjanya memang perlu kekuatan luar biasa supaya bisa survive. Pergi pagi-pagi mencari berita, memeras otak sorenya untuk menuliskan berita tadi agar mudah dibaca esok paginya, pulang larut malam dan masih harus mandi dan membereskan tempat tidur. Manusia super. Kalau saya, pasti sudah KO dihari ketiga.
Dan, ya, saya jatuh cinta.
Pada kuli tinta.
Ya, dia adalah wartawan ketika pertama kali saya berjumpa. Ya, dia adalah wartawan ketika pertamakali saya leleh karena sikap dan pemikirannya, dan ya, dia adalah wartawan…hingga sekarang saya tak bisa tanpanya.
Sama dengan sahabat saya (mungkin karena ini kita jadi sahabat ya Jeng? Banyak sekali persamaan, termasuk pemilihan pasangan.. =p), kami jatuh cinta pada wartawan. Manusia-manusia super itu.
Dan sahabat saya berucap, lewat sms, “Janji-janji yg terbatalkan, even2 penting yg terlupakan, moment special yg tak dapat dihadiri…”
Kumpulan kata yang sama sekali belum pernah terlikirkan oleh saya untuk menjadi pasangan wartawan. Sungguh, saya tersentak. Apa saya siap?
Well, in my defense, selama ini dunia memaksa saya untuk jadi seorang perempuan yang kuat. Dalam hal apapun. Hati, otak, dan fisik. Saya rasa tak akan ada masalah yang timbul jika yang mempersulit hanyalah jarak dan waktu. Saya punya hidup, dan dia membebaskan saya untuk menjalaninya dengan cara saya (that’s why I love you…), dia pun punya kehidupannya, yang saya biarkan dinikmati dengan caranya sendiri, sementara “kami” akan tetap disana, dimana-mana.
“Janji-janji yang terbatalkan, even2 penting yg terlupakan, moment special yang tak dapat dihadiri…”
Hampir saya goyah, sedetik tak yakin dengan apa yang saya punya. Wondering tentang kekuatan yang saya miliki. Meragukan idealisme, menimpanya dengan bertanya, sanggupkah mengimbangi realita?
Hmmm.. saya masih tak sanggup membayangkan yang akan terjadi nanti. Malas rasanya mengira-ngira yang belum (tentu) terjadi. Well, some say, what will be will be. Who knows what tomorrow will brings you. Yang saya tau, saya hanya ingin dia ada.
Selalu ada, meskipun tidak selalu disamping saya.
Karena saya
..tidak bisa tanpanya
(ternyata…)
20 agustus 2008
Labels: ENG
sayang,
aku tak butuh kabarmu..
..tak juga berguna fotomu disebelah ranjangku
yang selalu terlihat kala mataku terbuka
tiap pagi buta
atau hendak menutup ketika malam tiba..
sayang,
tak perlu kau balas sms-smsku
aku juga tak terlalu ingin dengar suaramu..
..membayangkanmu tak cukup hilang hausku
sayang,
tak berguna fotomu disebelah ranjangku
...aku ingin ketemu...
(pasti kamu langsung bilang : gombaaaaaaalll...!!!) hehehe
15 agustus 08, 23.19
Labels: jatuh cinta
26juli2007
Hati, kepala, otak, dan rasa. Penuh dia.
Saya tak mau! Jangan paksa saya untuk berharap! Saya tau kemana harapan saya selalu pergi. Ke tempat sampah patah hati, dimana sedih, tangis, dan sakit yang tidak diharapkan siapa-siapa berkumpul. Menjadi satu dalam tempat sampah itu. Saya benci berharap. Saya tak mau.
Sumpah saya butuh bantuan. Siapapun yang bisa membunuh harapan saya sekarang, tolong bunuh saja. Saya benci melihat harapan saya dibuang ke dalam tempat sampah itu karena tak ada yang peduli pada apa yang saya harapkan. Menoleh sedikit untuk sekedar tersenyum pada harapan saya pun tidak. Yang selalu mereka lakukan adalah tertawa setiap harapan saya berakhir di tempat sampah itu. Saya benci berharap!
Tolong saya, saya tau jatuh cinta selalu pergi bersama harapan. Berjalan seiringan, dengan sakit hati yang selalu siap dibelakang, mencari celah dan waktu yang tepat untuk ikut bercengkrama lalu mengambil alih suasana. Saya benci itu semua. Tolong saya, saya tak tau caranya mengusir harapan pergi.
Sumpah saya butuh bantuan. Siapapun yang bisa membunuh harapan saya, tolong bunuh saja. Karena jika tidak, maka harapan akan membunuh saya pelan-pelan. Dengan kuasa sang sakit hati yang selalu mengintai di belakang, mengambil alih suasana, menyebar kesedihan dan sengsara, menggerogoti hati, kepala, otak, dan rasa. Membiarkan saya mati pelan-pelan karena harapan. Tolong, bunuhkan harapan saya.
Hati, kepala, otak, dan rasa. Penuh dia.
Labels: jatuh cinta
Ouch it hurts..
Deal with the real. Pengharapan dan pemikiran yang jauh dari imajinasi. Keluar dari jalur kenyataan. Salah jalan. Harus memaksakan diri kelar dari labyrinth otak, padahal sudah jauh saya berjalan.. dan berlari. Fuck! I hate this. Benci untuk mengaku kalah. Benci untuk mengalah. Benci harus mundur lagi, mengingat-ingat jalan keluar dari sini.
Fight. Lawan yang saya tantang bukan kelas rendahan. Saya harus maju lawan kenyataan.. senjata andalan saya remuk dikalahkan. Ego saya babak belur, tak bisa bertahan. Saya kalah. Menyerah pada realita.
Time heals. Saya butuh waktu. Untuk bantu saya sembuh. Dimana waktu? Tak bisakah saya bertemu? Rasanya seperti terjebak ditengah. Tanpa waktu, tanpa apa.
Labels: patah hati
Nothing is impossible in this life, you just have to believe.
Saya juga tak pernah menyangka. Tak pernah mengira sama sekali, menduga pun tidak. Dia yang selama ini tak pernah terlihat dalam sadar saya, mendadak muncul kepermukaan sadar. Perlahan jelas. Memang agak buram kali pertama dia ada, perlahan menjelas, dan semakin jelas. Sampai akhirnya saya sama sekali sadar. Bahwa dia ada, bahwa dia selalu ada, bahwa saya tak pernah menginginkannya tak ada.
Saya freak out. Tak pernah saya alami ini sebelumnya. Tak pernah saya meminta apapun yang sudah saya lepas untuk kembali. Tak penah saya menyangka ini bakal terjadi.
Tapi hati memang tidak disana untuk disimpan saja. Untuk pertama kalinya saya buka kuncinya, sampai tak ingat lagi kapan saya mememjarakannya supaya tidak bisa apa-apa. Saya juga tidak ingat lagi mengapa hati harus tersimpan rapat dengan gembok raksasa seperti itu. Saya hampir lupa saya punya hati.
Untung kuncinya tidak hilang. Pertama kalinya, saya pandangi kunci penyelamat itu. Agak berkarat, tapi saya yakin, masih bisa digunakan. Sempat saya ragu, nanti jika saya buka gemboknya, apa yang akan terjadi pada hati? Saya takut, nanti ia hancur lagi. Saya ingat sekarang, saya simpan hati saya baik-baik selama ini, agar ia disitu saja. Agar tidak terkontaminasi udara dan polusi. Agar ia utuh saja, tidak kemudian merapuh karena usia, lalu hancur digerogoti masalah.
Lalu tiba-tiba saja kotaknya terbuka. Hati muncul begitu saja. Kaget saya dibuatnya! Otak saja tidak mengira secepat itu saya membukanya. Tak sempat melihat prosesnya. Saya lemas, tidak tau apa yang harus dilakukan dengan hati. Sepertinya harus adaptasi.
.
Sekarang saya sudah terbiasa lagi dengannya. Saya bahagia gembok itu terbuka. Sumpah saya tak pernah menyangka.
.
Dan kamu. Iya kamu! Terimakasih buat keberadaanmu. Terimakasih untuk ada, untuk selalu ada, dan untuk bersabar sampai saya akhirnya tau bahwa saya tak pernah menginginkanmu tak ada.
….pengen ke Jogja segera…..
Labels: ENG