I'm in a lotta lust..
Percaya tidak, kita bukan hanya bisa fall in love, tapi ternyata juga bisa fall in lust. Haha, tadinya saya juga tak menyangka.. this guy i've met, Gosh! So hot.
He's not a type of mine, not even close. Tapi setiap saya melihatnya, terbakar rasanya. Yes, he's that hot.
Penasaran. Pertama kali bertemu, itu yang ada dipikiran saya. Bad boy, dengan segala gaya sok cuek-nya, dengan pesona bahan pembicaraan yang dia lontarkan, dengan cara tertawanya yang lepas, dengan rokok yang tak pernah lepas dari tangannya. Saya tergoda. Tak tahan untuk tak mengenalnya. Dan ternyata, semakin saya kenal, semakin penasaran saya dibuatnya.
Mysterious person. Bayangkan saja, dia tak pernah sekalipun bercerita tentang keluarganya. Not even once! Saya tau, ada yang tak beres disana, tapi siapa yang peduli? Saya hanya tertarik padanya, tidak tertarik pada yang lainnya. Ya maaf saja, dari awal saya memang penasaran ingin menaklukkannya, menjadikannya ada dibawah atau dibelakang saya. Oops, maaf lagi. Kejujuran memang bukan anggota badan sensor blog ini, jadi nikmati saja lah ya?
Someway, akhirnya saya bisa menguasainya. Dugaan saya tak salah diawal jumpa, he's a s** god! Mengutip dari buku yang saya baca: he's a sinfully delicious! Ah saya jatuh cinta. Bukan padanya, tapi pada apa yang dia perbuat pada saya. I'm in a lotta lust. So deeply falling in lust. Gila kedengarannya pasti, tapi jika kau bersiap untuk menghujat, bayangkan dulu orang seperti dia datang ke kehidupanmu. Hmmm, tetap tak tahan untuk mengatai saya? Berarti kau tak pernah punya seseorang yang begitu hebat diranjang dan memujamu habis-habisan.
Hehehhehehe... saya hanya bisa tertawa kalau begitu adanya.
Dunia saya jadi indah kembali, kami saling memuja dan memuji. Rasanya seperti bersama dalam dosa besar ini. Berdua menjadi iblis yang paling hina di bumi.
Tapi, tunggu sebentar, apa ini?
Ah! kenapa dia harus menulis kata-kata seperti itu dalam smsnya pada saya?
“aku sayang kamu”
....saya hanya ingin menikmati, sayang.. bukan dimiliki.. Diam saja lah, dan nikmati hidup ini.
Kapan kita kesana lagi?
semuanya adalah tentang saya.
Labels: s*x and the city
My life is none of your business..
Saya dikirimi e-mail dari seseorang yang sedang mengalami sakit hati. Masalah klise bagi saya. Beda agama, pacarnya bertemu perempuan lain yg lebih menarik (plus seagama), lalu dia ditinggalkan. Klise. Sangat klise.
Coba baca penggalan e-mail yang ditulis oleh perempuan pathetic itu untuk saya..
“...dan dia dah bersumpah mandul kalo dia lebih cinta ke aq dari R***, dan aq tau R*** sebagai pelarian aja”
Yeah..yeah.. mau dia sumpah mandul atau sumpah pocong, dia tetep lebih milih R*** bukan? Perempuan bodoh.. Pantas lah lelakimu mudah terpikat perempuan lain.
Hahahaha saya jadi teringat, saya juga pernah jadi perempuan bodoh, ditinggal lelaki karena dia lebih enjoy bersama perempuan lain. Tapi otak saya tak sedangkal itu lah, berfikir bahwa menyuruh lelaki bersumpah mandul itu ada gunanya... come on.. what next? Beli tiket kereta ke Jombang untuk mengantri bertemu Ponari?
“aq tau gmn cara hadapi patahhati... paling tidak lebih patah hati km te, karena km dah bela2in pergi kejogja dan km dah melakukan hubungan terlarang. Yah pasti km susah ngelupainnya...”
Woooaa.. ini sudah melewati batas sopan menurut saya. Saya tak pernah berteman dengannya, tak pernah nongkrong bareng, bergosip di telepon, atau saling bertukar masalah termasuk masalah sex. Hah! Who the hell she think she is? Let's go find out..
Oh! by the way, kalau2 dia baca tulisan ini, fyi..lelaki yang pernah saya tiduri bukan hanya yang di Jogja kok Bu, dan saya bukan perempuan sehina itu, yang patah hati cuma karena sex. Oh ya, satu lagi, kapan itu saya menginap dihotel yang sama denganmu, direkomendasikan oleh lelakimu, berdasarkan pengalamannya disitu, denganmu... Hahahahaha!
“aq seorang konselor dan paling tidak segala teori aku tau.. dan aq mau pake jalanku sendiri untuk ngadapi masalahku”
huwahahahaha ini yang bikin saya sakit perut! Dia sebut dirinya konselor, huh? Hanya karena dia bekerja sosial mendengarkan curhat lewat telepon, dia pikir dirinya konselor... Ah. Saya semakin yakin, lelakinya itu sangat tepat memilih keputusan. Siapa yang tahan dengan drama queen seperti itu? (fyi, she doesn't know apa itu drama queen.. sumpah! Dimana dia hidup selama ini ya?)
Sudah deh. Cukup menghujatnya. Tak perlu lah lebih lanjut menghina perempuan hina. Well, patah hati memang bukan urusan yang gampang untuk diselesaikan. Bagi siapa saja yang pernah mengalaminya, mari ramai-ramai mengaku bahwa sakit hati jauh lebih merepotkan dari sakit apapun. Susah cari obatnya. Batu ponaripun belum tentu bisa mengatasinya. Saya akui saja, sebagian besar tulisan saya adalah tentang hati saya yang patah, lalu utuh lagi tiba2, lalu patah lagi, hancur, kemudian utuh lagi. Hebatnya Tuhan Yang Maha Kuasa, diciptakannya entah bagaimana, hanya hati yang bisa remuk lalu utuh kembali.
Labels: s*x and the city
Saya masih tak tertarik dengan komitmen. Trauma saya dibuatnya. Dari awal saya mulai berhubungan dengan lelaki, saya tak pernah tertarik dengan komitmen. Bagi saya komitmen itu tak ada gunanya. Sama sekali tak ada gunanya.
Suatu waktu dalam hidup saya, untuk pertama kalinya saya temukan lelaki yang bikin saya merasa jadi perempuan seutuhnya: cengeng, dan berhati. Ya, berhati, mempunyai hati. Percaya pada hati. Padahal tak pernah saya percaya pada hati. Hati selalu membuat realita menjadi bias, bayangannya pun tak kelihatan jika hati sudah berdiri menantang. Saya lebih memuja otak, yang selalu membawa saya pada jalan yang benar. Jika sudah otak yang memutuskan, saya tak pernah menyesal menjalani sesuatu. Tidak seperti saat saya berhati. Saya menyesali, sampai saat ini.
Hati yang menggoda saya untuk percaya padanya, dan dengan bodohnya saat itu saya ikut saja. Hati merasa saya cinta pada lelaki itu, lalu berbisik pada saya untuk memulai sesuatu yang baru, membujuk saya agar pelan-pelan merubah mind-set yang selama ini dikuasai otak, memanggil harapan untuk berkolaborasi membius saya.....untuk berkomitmen.
Saya pasrah saat itu, saya ingat benar, hati tertawa. Mengubah background hidup saya yang tadinya hanya hitam, putih dan merah (simbol yin, yang, plus fearless menurut saya) menjadi penuh warna dan bunga. Saya bahagia. Berterima kasih pada hati yang bisa berbuat sedemikian indah pada hidup. Tak menyangka, sama sekali tak menyangka ada banyak warna lain dalam dunia.
Tapi...
ketika kenyataan tiba2 muncul, menunjukkan pada saya bahwa ada perempuan lain yang meratui hidup lelaki saya saat itu, hati membuat saya sakit! Hati bikin saya menangis berjam-jam, diam tak bergerak bermenit-menit, kesakitan merasakan akibat perbuatannya pada saya. Lalu harapan, yang tadinya selalu bersama hati, hilang pergi begitu saja. Melepas semua tanggung jawab yang sudah diperbuatnya. Saya tak sempat menoleh padanya, tak sempat saya perhatikan, apakah harapan meninggalkan saya sambil tertawa keras, mensyukuri saya yang terperdaya.
Saya tak mau lagi percaya pada hati. Tak akan! Tak juga akan memberikan kesempatan pada harapan untuk mengujungi saya meski hanya untuk sekedar menyapa. Huh! Tak usah saja. Saya akan baik saja dengan otak dan realita. Saya tak mau tertipu untuk kali kedua.
....kemarin, ada lelaki yang mengajak saya berkomitmen. Saya lihat ada hati dan harapan tersenyum manis bersamanya. Saya langsung muak. Bukan karena lelaki itu, tapi karena melihat senyuman hati dan harapan. Saya usir mereka, saya tak mau berjumpa.
Entah apa yang dirasakan lelaki itu saat saya bilang tak mau berkomitmen dengannya. Yang penting, saya masih bersamanya. Tanpa hatipun, saya bisa bahagia.
Labels: patah hati
“There’s nothing you can say, there’s nothing I can do”.
Buntu.
Biasanya saya tak menyerah, tapi kali ini, rasanya mau mati. Sendiri.
Ya tentu saja..dia yang saya maksud, tidak akan mau menemani saya mati. Menemani sewaktu saya hidup saja dia tak mau, apalagi menemani saya mati. Makanya, saya mau mati. Sendiri.
Saya jadi sering bertanya, apakah nanti jika saya mati, sendiri, dia masih tak punya apapun untuk dikatakan? Tak juga rasa menyesal karena telah menyingkirkan saya dari antrian panjang untuk bersamanya? Tak juga rasa iba karena tak pernah berhasil membuat saya pergi darinya sebentar saja meskipun telah menyakiti dengan semua cara? Saya selalu kembali padanya. Tak mau pergi dari hidupnya. Cara apalagi yang bisa kau coba? Saya jamin, tak akan berhasil. Tak percaya?
Apakah nanti, jika saya mati, sendiri, dia masih belum menyadari bahwa sayalah sejati? Bahwa sayalah yang paling mengerti? Bahwa selama ini dia bersama perempuan-perempuan yang tak punya arti?
Nanti, jika saya mati, sendiri, ingin rasanya tetap ada dalam hidupnya. Tetap berada disebelahnya. Hey, bukannya nanti jika saya mati, saya bisa bebas kemana saja? Diatas pohon, dipekuburan, dirumah tua kosong, …atau terus ada disampingnya. Saya tak akan lagi mengganggunya, dia bisa tetap bersama siapa saja. Perempuan-perempuan yang tak punya otak dan harga diri. Perempuan-perempuan yang tak akan mengerti. Perempuan yang sedang bersamanya saat ini.
Nanti, jika saya mati, sendiri, dia mungkin tak akan tau, dan tak akan terganggu lagi.
Saya hanya ingin bersamanya selalu. Tidakkah kau tau?
-Sometime in June 2008-
Labels: patah hati
Hey baby..
how is it going in your life at the time? Things are going not so well without you here. Kamu tau kan, saya paling benci yang namanya dibatasi. Dalam hal apapun. But you know what? Rasanya jadi “hilang tanpamu” sekarang. Seperti tak ada lagi yang bisa membatasi. Semua saya yang urus sendiri. Heran? Ya, pasti kamu akan berkata: lho bukannya sebelum bersamaku kamu memang begitu? Merasa tak butuh orang lain dalam hidup, bisa mengatasi semuanya sendiri, merasa jadi perempuan paling kuat didunia..
well baby, I was wrong.
Ketika kamu tak ada lagi disini, saya melemah. Tersadar jika kamu adalah penambah kekuatan dalam hidup saya, saya mengaku kalah. Untuk pertama kalinya saya mengerti pentingnya tebatasi. Untuk akhirnya, saya mengerti pentingnya ada kamu dalam hidup saya.
I lost baby, saya tersesat. Kemana saya harus berjalan setelah ini? Selama ini setelah kau tak ada lagi, saya hanya diam. Bukan karena saya tak tau apa yang harus dilakukan, tapi saya tak tau untuk apa dilakukan. Diam, tak bergerak, seperti habis batere pada diri saya.
Saya kira saya tak mungkin seperti ini, merengek pada hidup, meratapi nasib, bertanya terlalu banyak mengapa. Meskipun saya tau, sebanyak apapun saya bertanya, tak mungkin jawabannya muncul kemuka saya. Mencoba berfikir realis seperti biasanya, tetap tak membuat kamu berkurang dalam otak, malah semakin rumit rasanya isi kepala saya ini. Saya jadi mengerti sumber inspirasi orang2 menciptakan lagu2 yang dulu saya anggap cengeng. Dari hati. Untuk pertama kalinya saya tau bahwa hati benar exist adanya.
This post-brokenheart things memang benar2 merepotkan saya. Setengah mati saya coba bangun dari sini, sekuat tenaga saya coba untuk bergerak, mencoba mengingat yang biasanya saya bisa lakukan sebelum ada kamu dalam hidup saya. Tapi setiap moment yang terlintas tiba2, setiap tempat teristimewa, setiap lagu yang kebetulan terdengar, setiap koran pagi yang saya baca, semua melemahkan niat saya. Saya melemah, tanpamu. Dan tanpa lagi rasa malu, saya mengaku.
Teringat alasanmu untuk pergi, karena saya tak cukup ada disana bukan? Karena itu kamu buka duniamu untuk perempuan lain yang bisa tiap saat hadir disana. Diduniamu yang tak pernah cukup saya mengerti, yang tak pernah cukup saya tau. Saya bilang “saya tak akan pernah rela” saya bersungguh tak akan bahagia untuk kalian berdua. Saya tak percaya dia bisa membuatmu bahagia. Mungkin saja bisa, tapi tak bisa bertahan lama. Saya bukan berdoa untuk itu, baby, saya yakin saja. Seyakin bahwa kamulah orangnya. Seyakin bahwa kamu tak akan ada gantinya. Seyakin bahagia saya saat kamu ada dalam hidup saya. Seyakin saya pada dunia yang tak akan terus meletakkan saya dibagian bawah saja. Seyakin saya bahwa kebahagiaan akan terus bersama kamu dan saya. Tanpa dia.
Saya tidak benci padamu, baby. Tidak juga pada perempuan itu. Saya tak benci pada apapun yang terjadi pada kamu dan saya. Saya hanya ingin melihatmu bahagia, meskipun tidak bersama saya. Hingga mungkin suatu saat saya bisa ikut bahagia meliatmu bersamanya.
Saya ingat kamu berkata “dia tidak bersalah”. Ya, dia tak mungkin salah, karena dia tak kenal saya, karena dia tak tau apa-apa, karena dia tak tau mengapa dia bisa memikatmu sehingga meninggalkan saya. Ya, saya tau, dia tak bersalah. Dan saya, tidak menyalahkannya atas kepergianmu meninggalkan saya, untuk bersamanya.
Baby, setiap benci dari pikiran saya, setiap caci yang keluar dari mulut sahabat2 saya, setiap usaha untuk membuatmu tak ada, tidaklah nyata bagi saya. Yang nyata hanya hampa. Yang terasa hanya tak ada. Ketidak adaanmu di dunia saya.
I'm lost without you, baby..
saya kangen kita..
19 Januari 2009
Labels: patah hati
Ternyata sumber air di mata saya masih ada
Selama ini hanya tersumbat saja
Dengan batu yang keras seperti baja
Ketika batu itu terkikis akhirnya
Air mata tak bisa berhenti keluar
Lepas
Tumpah semua
dia yang mengikis sumbat itu
dengan keputusannya
untuk terbang entah kemana
-28 Desember 2008,
sehari sebelum tanggal lahirnya.
Labels: patah hati
What is a friend for you? Beberapa tahun yang lalu, waktu pertama kali saya menemukan mereka yang saya anggap sahabat, adalah saat semuanya begitu simple dan menyenangkan, saat dunia adalah memberontak dirumah, membolos kuliah, berkumpul bersama, dan mencoba semua yang dilarang agama. Semua dilakukan atas nama persahabatan. Kami menciptakan keluarga baru, kemana-mana bersama, tak lengkap jika ada salah satu tak ada. Bergerak bersama, menolong sesama yang sedang gundah dilanda masalah. Semua begitu indah.
Beberapa bulan terakhir, saya merasa tidak lagi ada di masa itu. Beberapa teman punya kesibukan baru, begitu pula saya. Waktu untuk berjumpa jadi makin sedikit, bertambah hal-hal yang harus terpikirkan seiring bertambah pula umur dan tanggung jawab. Kerja, uang, keluarga yang harus dibantu, kekasih, atau bahkan keluarga baru. Semua memakan pikiran dan waktu.
Memang masih terasa indahnya waktu kami bertemu, mencuri jumpa disela padatnya aktifitas dan rutinitas baru. Mengobati rindu pada masa muda itu. Saya rasa inilah masa hidup, bergulir maju. Akhirnya saya tau, dalam hidup tak hanya senang-senang yang jadi nomor satu. Banyak susah menunggu, dan saya tak bisa hindari itu. I guess, setiap orang yang pernah mengalami proses dewasa juga tau, benar tidak?
Alur hidup yang baru diusia lebih dari seperempat abad, membuat kami tak bisa selalu bergerak bersama lagi. Tingginya aktifitas saya tak lagi sinkron dengan keadaan badan, mau tak mau saya harus jaga kondisi sendiri. Tak tertarik lagi pergi disko tiap weekend, tubuh sudah capai bekerja seminggu sebelumnya. Saya inginkan weekend adalah bangun siang, menikmati kopi dan koran tanpa tergesa dikejar waktu untuk bekerja. Tak bisa lagi minum Absolut dan Jack Daniel's bergantian tiap minggu, lambung saya sudah sensitif diumur ini. Salah makan atau minum sedikit, rasanya seperti mendekat ke ajal saja. Saya hanya sedikit lebih memikirkan diri sendiri, toh akhirnya hidup saya bukan milik mereka.
Saya dianggap menjauh. Saya disebut tak asik, terlalu jaga image, sok dewasa. Karena saya punya definisi baru untuk menggila. Karena di dunia saya sekarang, mabok diclub, menjadikan vodka sebagai dewa, tepar hingga tak sadar apa yang diperbuat, atau menghisap ganja, bukan lagi jadi hal yang membanggakan. Karena saya sedikit lebih memikirkan diri sendiri ketimbang berkumpul bersama.
Dan diumur hampir 27 tahun ini, saya dianggap tak lagi asik.
People change, I grow up. Bagi saya, saya hanya.... bertambah dewasa. Itu saja.
25 Desember 2008.
Labels: friendship