Ingin membunuhnya
Lalu menyimpan tubuhnya hanya untuk saya..
Menyimpan hatinya ditempat rahasia
Tak ada yang tau kecuali saya…
Membelah otaknya, mengurai isinya
Lalu isi ulang penuh-penih dengan: saya.
Biar tak ada lagi yang bisa dipikirkannya
Selain saya.
Apa yang bisa saya lakukan
Agar dia merasa seperti yang saya rasa
Kecuali dengan membunuhnya,
Menyimpan tubuhnya,
Menyembunyikan hatinya,
Lalu mengisi ulang otaknya
dengan Saya..
saya benci melihatmu beramanya!
..kamu seharusnya disini, bersama saya…
semuanya adalah tentang saya.
Labels: patah hati
1 April 2010
Teman saya bilang, “jalani dengan senang hati, semua itu amanah. Jangan menyerah, bersyukur, dan bersyukur. Mending capek kerja daripada capek cari kerja.”
Huh. Kesan saya membaca imel dari teman saya itu kok negative semua ya. Pertama, dia tahu bahwa saya naik jabatan 7 bulan yang lalu dengan janji kenaikan gaji yang melimpah. 7 bulan saya menunggu, berusaha sabar dan berusaha keras untuk mengerti mengapa perusahaan harus menahan hak kompensasi jabatan dan tanggung jawab baru saya begitu lama. Tapi bulan ini ketika saya menerima slip gaji baru, kenaikan gaji yang saya bayangkan dan kenyataan yang tertera pada slip gaji, tidak matching. Sama sekali tidak matching.
Saya kecewa. Marah.
Tidak ada penjelasan yang bikin saya puas tentang kenaikan gaji yang tidak sesuai itu. Tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Semua sudah terlanjur. Saya terlanjur berada di jabatan ini, gaji baru sudah terlanjur masuk ke payroll, terlanjur mimpi, terlanjur berharap banyak. Lalu apa yang dilakukan orang gila yang menjanjikan saya bergaji banyak waktu itu? Tidak ada. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulut jijiknya, tidak untuk membesarkan hati saya, tidak untuk memberi penjelasan mengapa gaji saya cuma segitu naiknya, tidak juga meminta maaf telah membohongi dan membodohi saya. Tidak ada satupun yang ia lakukan. Yeah, rite. Sumpah, saya ingin memuntahi mukanya yang seperti jamban itu.
Keadaannya seperti itu. Lalu teman saya bilang saya harus bersyukur karena yang saya jalani adalah amanah?? Amanahnya siapa??
Gila..
Seakan-akan dia menyuruh saya untuk menyerah pada keadaan. Tak mungkin saya pasrah dengan ketidakadilan. Kalau orang lain ingin pasrah, tidak berbuat apa-apa namun tidak bisa berhenti menggerutu pada kawan-kawannya, lalu menyebutnya dengan bersyukur, ya terserah. Saya sih, tidak.
Saya bersyukur atas kesempatan yang diberikan. Naik jabatan, berarti belajar menghadapi tantangan dan tanggung jawab baru yang lebih berat. Belajar pula tentang hal-hal baru yang ditemui. Belajar pula untuk miskin. Edaann.. Selama 7 bulan kemarin, saya benar-benar miskin. Menunggu gaji naik sambil mengirit. Tak pernah bersenang-senang, tak pernah beli kopi dimall, dijauhi pula oleh teman-teman karena tak pernah gabung bergaul. Saya pikir itu semua saya lakukan demi gaji baru yang menggiurkan, demi gengsi jabatan oke yang diikuti dengan kekayaan.
Ha-ha-ha.
Ketika mimpi tak mau merubah title-nya menjadi nyata, saya kecewa. Ketika janji menjauh perlahan dari kenyataan, saya marah. Sangat marah. Dan ketika teman-teman menuduh saya tidak bersyukur ketika saya bilang ingin cari kerjaan lain, saya ingin mereka segera masuk ke neraka. Enak saja menyuruh orang untuk menyerah pada ketidakadilan. Mereka pikir saya sama seperti mereka? Tidak punya cita-cita, berjalan mengikuti arus, tak punya pendirian, tak tau harus berbuat apa lagi selain menerima yang sudah dijalani. Huh. Dan mereka menyebut diri mereka laki-laki??
Banci.
Saya masih punya mimpi. Saya masih punya cita-cita. Saya masih mampu untuk meraihnya. Jika tempat kerja saya tidak bisa membantu saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu, saya yakin ada tempat lain yang menunggu untuk saya datangi.
Guys, teman-teman pembaca, mungkin ada yang pernah atau sedang mengalami ketidakadilan ditempat kerja seperti saya. Listen to me, jangan sampai ada orang lain yang menghambat dirimu untuk maju. Jangan menyerah pada keadaan! Tiap orang harus punya tujuan hidup. Jangan cuma bikin tujuan: berguna bagi nusa dan bangsa. Tai! Basi! Bikin tujuan yang spesifik, rencanakan caranya untuk terwujud. Gagal itu biasa, segera bangun dan lari lagi jika impian belum tercapai. Ga usah mengomentari something yang kita belum tau pasti sebabnya. Ga usah cari pembenaran dengan mengompori orang lain untuk berfikir yang sama dengan kita. If you want some, come get some! Make your own rules, guys! Come on!
Sepi, Sayang..
Lihat aku, Sayangku.. Lihat apa yg cinta telah lakukan padaku. Ntah dari mana cinta berguru hingga tak terkalahkan senjata dan ilmu. Dahsyat ia menyerangku, bertubi-tubi panahnya menghunjam jantung hatiku. Berliter-liter air wanginya menyirami tubuhku. Ditiupinya wajahku dengan anginnya sehingga ku tak merasa gerah akan sinarnya yg benderang menyinari wajahku. Hingga tak terlihat apapun disekelilingku kecuali kamu. Kamu. Hanya kamu.
Aku suka rasanya, Sayang. Ketika cinta membawamu mendekat kepadaku. Tak bisa terlukis senyumku ketika itu. Seluas langit rasanya. Apakah kau melihatnya, Sayang? Apakah kau melihatku segembira aku setiap melihatmu?
Aku kangen, Sayang.
Jangan suruh aku menjadi kuat, karena aku lemah tanpamu. Jangan harapkan apa-apa dariku kecuali cinta itu, yang berlebih-lebih kusiapkan untukmu. Yang tak akan kumal meski kau pakai setiap waktu. Yang tak akan habis meski kau gunakan semaumu. Yang tak akan hilang meski tak kau kunci di tempat aman.
Selalu ada untukmu.
Aku kangen, Sayang...
20 Oktober 2009
Labels: jatuh cinta
It’s gonnabe all about s.e.x
Tadi sore seorang kawan yang istrinya sedang hamil 3 bulan bercerita, ia digoda. Yeah, dia bilang dia digoda. Oleh perempuan janda, yang sudah lama tak bersama pria. Seru sekali ceritanya, seperti ia belum pernah berbuat yang seperti itu dengan istrinya yang 3 bulan hamil dibuatnya.
“lidahnya ada disini saya” katanya menunjuk ke telinganya.
Saya hanya tertawa.
Teringat sahabat saya, yang dulu jumpa dengan seorang pria. Lalu tergoda. Yeah, dia bilang dia tergoda. Oleh lelaki ganteng pula kaya. Yang istrinya sedang hamil 7 bulan. Seru sekali ceritanya, seperti mereka belum pernah bertindak yang seperti itu dengan siapapun sebelumnya. Hingga tak ingin mengingat ada yang dirumah. Sedang hamil 7 bulan menantinya.
“Kau sudah coba hotel yang disana itu? Bagus ternyata” dia mengawali ceritanya.
Saya tertawa, sambil merinding dibuatnya.
Lalu teman saya yang lain (iya, saya memang punya banyak teman), dia memang penggoda. Digodanya seorang pria, yang kemudian mengaku jika ia punya istri dirumah, yang sedang hamil, sudah 5 bulan masanya. Tidak terlalu seru ceritanya, hampir sama saja dengan kisahnya bersama pria-pria hidung belang lainnya. Hanya saja kali ini adalah seorang pria, yang istrinya sedang hamil, 5 bulan masanya.
“Lumayan lah, Say.. Aku mau dibayarin liburan ke Bali. Kamu mau ikut?”
Saya tertawa. Kali ini terbahak-bahak dibuatnya.
Temannya sahabat saya, seorang pria beranak dua. Bertemu dengan perempuan cantik jelita. Istrinya sekarang jelek, katanya. Gendut, tak enak dipandang, apalagi ditiduri diranjang. Lalu dia dan perempuan baru itu saling goda. Lumayan seru ceritanya. Seperti kembali ke masa dahulu kala, ujarnya. Seperti belum pernah jumpa dengan istri jelek dan anak-anaknya.
“Aku sayang padanya”
Saya tak bisa tertawa. Teringat nasib yang sama. Dulu juga dialami Ibu saya.
Seorang perempuan, saya lupa dia siapa. Bukan penggoda, tak sengaja menggoda. Yeah, dia mengakui jika dia yang memang menggoda. Meskipun tak sengaja, katanya. Lelaki yang kebetulan istrinya sedang hamil juga. Dari bulan kelima, berlanjut hingga ketujuh, lalu delapan. Seru sekali ceritanya, apalagi saat hati turut serta. Semuanya dilakukan seperti kala pertama saja. Mana mau mengingat apalagi berfikir, tentang sang istri yang sedang hamil.
“Pas bangeeet. Seperti botol yang berjumpa dengan tutupnya. Kami pasti jodoh dalam dunia sex”
Saya tertawa.
Lalu tersenyum, dan lagi tertawa.
Saya ingat dia siapa.
..itu saya!
(2 November 2009, dikamar Kos.. 20.07.. Terinspirasi dari cerita Mas Ketut tadi sore… Hehehehehe)
Labels: s*x and the city
Bullshit..
Saya terjebak dalam bullshits. Feodalisme. Kekuasaan searah. Apalah namanya. Saya jengah.
Tak pernah jumpa, apalagi terbiasa dengan sistem jaman dulu seperti itu. Lahir diawal tahun 80an, saya tumbuh dengan ajaran membenci Pak Harto. Tidak punya pemimpin idola karena saya anggap hampir semua pemimpin itu sama adanya. Megalomaniac. Gila kekuasaan. Berwaham kebesaran (pinjem istilahmu, Tiek).
Orang-orang itu, menurut saya, hidup dengan nista. Orgasme dengan tundukan kepala. Mencandu puji dan puja. Toleran dengan dusta. Asalkan mereka puas. Asalkan mereka di udara.
Nista.
Dan saya, sedang terjebak didalamnya. Dilemma antara “demi” dan “tapi”. Masih mencari apakah saya kuat bertahan demi, atau saya harus mundur karena tetapi.
Yah, klisenya, saya hanya tinggal memilih. Ikuti arus bullshit ini, atau keluar saja segera. Korbankan yang sudah terimpikan, cari lagi peluang. Untuk itu saya butuh tambahan doa. Berharap dan berdoa sendirian tak mungkin cukup untuk dapatkan jawaban. Bantu saya yuk, pembaca?
Labels: random comments
Ya, dunia saya adalah pesta. Warna-warni, penuh musik, enjoyable sekali. Saya mencintai pesta itu lebih dari apapun didunia ini. Saya pikir, inilah cara saya berterima kasih pada Yang Maha Memberi. Mensyukuri yang sudah diberikan untuk saya dengan cara menikmati. Semuanya. Tanpa protes, tanpa bertanya mengapa, tanpa menyesal, tanpa meminta. Ikhlas, saya cinta hidup saya dengan segala yang ada didalamnya.
Pernah suatu waktu, seorang teman berusaha sekuat tenaga mempengaruhi saya untuk keluar dari pesta saya. Untuk bergabung dengan dia dan teman2nya. Untuk menjadi sama, untuk kemudian tak istimewa.
“hah!” kata saya,
“untuk apa saya bergabung dengan kalian yang yang tak punya beda? Saya adalah beda, saya menikmatinya, saya tak perlu berubah menjadi kalian untuk menjadi sama. Saya beda. Saya istimewa. Dan misalnya suatu saat nanti saya tampak seperti kalian, bukan berarti saya melakukannya karena ingin terlihat sama, tapi karena saya benar-benar menemukan sesuatu yang bisa membuat pesta saya jadi lebih meriah”
Dan dia disana. Muncul dan menawarkan diri untuk masuk ke pesta saya. Diam dan diam disana sampai saya mengijinkannya. Tersenyum dan tertawa melihat tingkah saya berpesta. Tak pernah dia mengeluh karena saya membiarkannya tetap di pintu saja, tak juga dia komentar tentang pesta saya, tak juga dia membandingkan dengan hidup orang lainnya.
Dia tetap disana.
He stays.
Pernah saya menyuruhnya pergi, ke tempat lain dimana dia bisa bergerak bebas, berbahagia, tak hanya melihat saya berpesta. Tapi dia diam saja. Sejenak berkata bahwa dia menikmatinya. Menikmati setiap waktunya memperhatikan tingkah saya, menikmati aura pesta, menikmati masanya berdiam disana, menikmati yang sudah dinantinya sekian lama.
“Apa yang selama ini kau cari?” saya menghentikan pesta sejenak untuk bertanya.
“Yang saya butuhkan untuk tenang. Saya ingin berjumpa bahagia” Jawabnya.
Lalu dia lanjutkan dengan “saya tahu yang selama ini saya mau, tapi saya belum juga berjumpa dengan bahagia. Lama saya mencari dimana bahagia berada, tapi tetap saya tak bisa menemukannya. Seseorang pernah berkata, bahagia akan melihatmu jika kau tahu apa yang sebenarnya kau butuhkan. Ketika kau penuhi kebutuhan itu, bahagia akan ada disana. Tak akan meninggalkanmu.”
“Pesta ini membuat saya tenang, rasanya tak mau apa-apa lagi. Saya merasa cukup, sepertinya saya melihat bahagia berjalan menghampiri saya. Akhirnya saya berjumpa dengannya. ”
Saya mulai memperhatikannya yang berdiri saja dipintu tempat pesta. Jawabannya menarik hati saya.
Lalu karena ingin menghormati kesediannya untuk selama ini tidak diperhatikan, saya mengajaknya masuk. Saya pikir, saya tetap punya hak untuk mengusirnya dari pesta jika ternyata dia hanya ingin mengacaukannya.
Sungguh, awalnya hanya itu saja alasan saya. Ketika ternyata saya malah menikmati pesta bersamanya, saya tak dapat menjelaskannya. Ini terjadi begitu saja, saya bahkan tak pernah membayangkan pesta saya bisa dihadiri orang selain saya.
Ketika dia terlibat didalamnya, saya diam saja. Tersenyum dan tertawa melihatnya bertingkah memeriahkan pesta, memasang lebih banyak balon dan pita, menambah warna dimana-mana, menggabungkan musik saya dan musiknya, mengajak saya berdansa bersama.
Dan lihatlah saya!
Bahagia dengan yang baru didunia saya.
Labels: jatuh cinta
I'm in a lotta lust..
Percaya tidak, kita bukan hanya bisa fall in love, tapi ternyata juga bisa fall in lust. Haha, tadinya saya juga tak menyangka.. this guy i've met, Gosh! So hot.
He's not a type of mine, not even close. Tapi setiap saya melihatnya, terbakar rasanya. Yes, he's that hot.
Penasaran. Pertama kali bertemu, itu yang ada dipikiran saya. Bad boy, dengan segala gaya sok cuek-nya, dengan pesona bahan pembicaraan yang dia lontarkan, dengan cara tertawanya yang lepas, dengan rokok yang tak pernah lepas dari tangannya. Saya tergoda. Tak tahan untuk tak mengenalnya. Dan ternyata, semakin saya kenal, semakin penasaran saya dibuatnya.
Mysterious person. Bayangkan saja, dia tak pernah sekalipun bercerita tentang keluarganya. Not even once! Saya tau, ada yang tak beres disana, tapi siapa yang peduli? Saya hanya tertarik padanya, tidak tertarik pada yang lainnya. Ya maaf saja, dari awal saya memang penasaran ingin menaklukkannya, menjadikannya ada dibawah atau dibelakang saya. Oops, maaf lagi. Kejujuran memang bukan anggota badan sensor blog ini, jadi nikmati saja lah ya?
Someway, akhirnya saya bisa menguasainya. Dugaan saya tak salah diawal jumpa, he's a s** god! Mengutip dari buku yang saya baca: he's a sinfully delicious! Ah saya jatuh cinta. Bukan padanya, tapi pada apa yang dia perbuat pada saya. I'm in a lotta lust. So deeply falling in lust. Gila kedengarannya pasti, tapi jika kau bersiap untuk menghujat, bayangkan dulu orang seperti dia datang ke kehidupanmu. Hmmm, tetap tak tahan untuk mengatai saya? Berarti kau tak pernah punya seseorang yang begitu hebat diranjang dan memujamu habis-habisan.
Hehehhehehe... saya hanya bisa tertawa kalau begitu adanya.
Dunia saya jadi indah kembali, kami saling memuja dan memuji. Rasanya seperti bersama dalam dosa besar ini. Berdua menjadi iblis yang paling hina di bumi.
Tapi, tunggu sebentar, apa ini?
Ah! kenapa dia harus menulis kata-kata seperti itu dalam smsnya pada saya?
“aku sayang kamu”
....saya hanya ingin menikmati, sayang.. bukan dimiliki.. Diam saja lah, dan nikmati hidup ini.
Kapan kita kesana lagi?
Labels: s*x and the city