Sepi, Sayang..
Lihat aku, Sayangku.. Lihat apa yg cinta telah lakukan padaku. Ntah dari mana cinta berguru hingga tak terkalahkan senjata dan ilmu. Dahsyat ia menyerangku, bertubi-tubi panahnya menghunjam jantung hatiku. Berliter-liter air wanginya menyirami tubuhku. Ditiupinya wajahku dengan anginnya sehingga ku tak merasa gerah akan sinarnya yg benderang menyinari wajahku. Hingga tak terlihat apapun disekelilingku kecuali kamu. Kamu. Hanya kamu.
Aku suka rasanya, Sayang. Ketika cinta membawamu mendekat kepadaku. Tak bisa terlukis senyumku ketika itu. Seluas langit rasanya. Apakah kau melihatnya, Sayang? Apakah kau melihatku segembira aku setiap melihatmu?
Aku kangen, Sayang.
Jangan suruh aku menjadi kuat, karena aku lemah tanpamu. Jangan harapkan apa-apa dariku kecuali cinta itu, yang berlebih-lebih kusiapkan untukmu. Yang tak akan kumal meski kau pakai setiap waktu. Yang tak akan habis meski kau gunakan semaumu. Yang tak akan hilang meski tak kau kunci di tempat aman.
Selalu ada untukmu.
Aku kangen, Sayang...
20 Oktober 2009
semuanya adalah tentang saya.
Labels: jatuh cinta
It’s gonnabe all about s.e.x
Tadi sore seorang kawan yang istrinya sedang hamil 3 bulan bercerita, ia digoda. Yeah, dia bilang dia digoda. Oleh perempuan janda, yang sudah lama tak bersama pria. Seru sekali ceritanya, seperti ia belum pernah berbuat yang seperti itu dengan istrinya yang 3 bulan hamil dibuatnya.
“lidahnya ada disini saya” katanya menunjuk ke telinganya.
Saya hanya tertawa.
Teringat sahabat saya, yang dulu jumpa dengan seorang pria. Lalu tergoda. Yeah, dia bilang dia tergoda. Oleh lelaki ganteng pula kaya. Yang istrinya sedang hamil 7 bulan. Seru sekali ceritanya, seperti mereka belum pernah bertindak yang seperti itu dengan siapapun sebelumnya. Hingga tak ingin mengingat ada yang dirumah. Sedang hamil 7 bulan menantinya.
“Kau sudah coba hotel yang disana itu? Bagus ternyata” dia mengawali ceritanya.
Saya tertawa, sambil merinding dibuatnya.
Lalu teman saya yang lain (iya, saya memang punya banyak teman), dia memang penggoda. Digodanya seorang pria, yang kemudian mengaku jika ia punya istri dirumah, yang sedang hamil, sudah 5 bulan masanya. Tidak terlalu seru ceritanya, hampir sama saja dengan kisahnya bersama pria-pria hidung belang lainnya. Hanya saja kali ini adalah seorang pria, yang istrinya sedang hamil, 5 bulan masanya.
“Lumayan lah, Say.. Aku mau dibayarin liburan ke Bali. Kamu mau ikut?”
Saya tertawa. Kali ini terbahak-bahak dibuatnya.
Temannya sahabat saya, seorang pria beranak dua. Bertemu dengan perempuan cantik jelita. Istrinya sekarang jelek, katanya. Gendut, tak enak dipandang, apalagi ditiduri diranjang. Lalu dia dan perempuan baru itu saling goda. Lumayan seru ceritanya. Seperti kembali ke masa dahulu kala, ujarnya. Seperti belum pernah jumpa dengan istri jelek dan anak-anaknya.
“Aku sayang padanya”
Saya tak bisa tertawa. Teringat nasib yang sama. Dulu juga dialami Ibu saya.
Seorang perempuan, saya lupa dia siapa. Bukan penggoda, tak sengaja menggoda. Yeah, dia mengakui jika dia yang memang menggoda. Meskipun tak sengaja, katanya. Lelaki yang kebetulan istrinya sedang hamil juga. Dari bulan kelima, berlanjut hingga ketujuh, lalu delapan. Seru sekali ceritanya, apalagi saat hati turut serta. Semuanya dilakukan seperti kala pertama saja. Mana mau mengingat apalagi berfikir, tentang sang istri yang sedang hamil.
“Pas bangeeet. Seperti botol yang berjumpa dengan tutupnya. Kami pasti jodoh dalam dunia sex”
Saya tertawa.
Lalu tersenyum, dan lagi tertawa.
Saya ingat dia siapa.
..itu saya!
(2 November 2009, dikamar Kos.. 20.07.. Terinspirasi dari cerita Mas Ketut tadi sore… Hehehehehe)
Labels: s*x and the city
Bullshit..
Saya terjebak dalam bullshits. Feodalisme. Kekuasaan searah. Apalah namanya. Saya jengah.
Tak pernah jumpa, apalagi terbiasa dengan sistem jaman dulu seperti itu. Lahir diawal tahun 80an, saya tumbuh dengan ajaran membenci Pak Harto. Tidak punya pemimpin idola karena saya anggap hampir semua pemimpin itu sama adanya. Megalomaniac. Gila kekuasaan. Berwaham kebesaran (pinjem istilahmu, Tiek).
Orang-orang itu, menurut saya, hidup dengan nista. Orgasme dengan tundukan kepala. Mencandu puji dan puja. Toleran dengan dusta. Asalkan mereka puas. Asalkan mereka di udara.
Nista.
Dan saya, sedang terjebak didalamnya. Dilemma antara “demi” dan “tapi”. Masih mencari apakah saya kuat bertahan demi, atau saya harus mundur karena tetapi.
Yah, klisenya, saya hanya tinggal memilih. Ikuti arus bullshit ini, atau keluar saja segera. Korbankan yang sudah terimpikan, cari lagi peluang. Untuk itu saya butuh tambahan doa. Berharap dan berdoa sendirian tak mungkin cukup untuk dapatkan jawaban. Bantu saya yuk, pembaca?
Labels: random comments
Ya, dunia saya adalah pesta. Warna-warni, penuh musik, enjoyable sekali. Saya mencintai pesta itu lebih dari apapun didunia ini. Saya pikir, inilah cara saya berterima kasih pada Yang Maha Memberi. Mensyukuri yang sudah diberikan untuk saya dengan cara menikmati. Semuanya. Tanpa protes, tanpa bertanya mengapa, tanpa menyesal, tanpa meminta. Ikhlas, saya cinta hidup saya dengan segala yang ada didalamnya.
Pernah suatu waktu, seorang teman berusaha sekuat tenaga mempengaruhi saya untuk keluar dari pesta saya. Untuk bergabung dengan dia dan teman2nya. Untuk menjadi sama, untuk kemudian tak istimewa.
“hah!” kata saya,
“untuk apa saya bergabung dengan kalian yang yang tak punya beda? Saya adalah beda, saya menikmatinya, saya tak perlu berubah menjadi kalian untuk menjadi sama. Saya beda. Saya istimewa. Dan misalnya suatu saat nanti saya tampak seperti kalian, bukan berarti saya melakukannya karena ingin terlihat sama, tapi karena saya benar-benar menemukan sesuatu yang bisa membuat pesta saya jadi lebih meriah”
Dan dia disana. Muncul dan menawarkan diri untuk masuk ke pesta saya. Diam dan diam disana sampai saya mengijinkannya. Tersenyum dan tertawa melihat tingkah saya berpesta. Tak pernah dia mengeluh karena saya membiarkannya tetap di pintu saja, tak juga dia komentar tentang pesta saya, tak juga dia membandingkan dengan hidup orang lainnya.
Dia tetap disana.
He stays.
Pernah saya menyuruhnya pergi, ke tempat lain dimana dia bisa bergerak bebas, berbahagia, tak hanya melihat saya berpesta. Tapi dia diam saja. Sejenak berkata bahwa dia menikmatinya. Menikmati setiap waktunya memperhatikan tingkah saya, menikmati aura pesta, menikmati masanya berdiam disana, menikmati yang sudah dinantinya sekian lama.
“Apa yang selama ini kau cari?” saya menghentikan pesta sejenak untuk bertanya.
“Yang saya butuhkan untuk tenang. Saya ingin berjumpa bahagia” Jawabnya.
Lalu dia lanjutkan dengan “saya tahu yang selama ini saya mau, tapi saya belum juga berjumpa dengan bahagia. Lama saya mencari dimana bahagia berada, tapi tetap saya tak bisa menemukannya. Seseorang pernah berkata, bahagia akan melihatmu jika kau tahu apa yang sebenarnya kau butuhkan. Ketika kau penuhi kebutuhan itu, bahagia akan ada disana. Tak akan meninggalkanmu.”
“Pesta ini membuat saya tenang, rasanya tak mau apa-apa lagi. Saya merasa cukup, sepertinya saya melihat bahagia berjalan menghampiri saya. Akhirnya saya berjumpa dengannya. ”
Saya mulai memperhatikannya yang berdiri saja dipintu tempat pesta. Jawabannya menarik hati saya.
Lalu karena ingin menghormati kesediannya untuk selama ini tidak diperhatikan, saya mengajaknya masuk. Saya pikir, saya tetap punya hak untuk mengusirnya dari pesta jika ternyata dia hanya ingin mengacaukannya.
Sungguh, awalnya hanya itu saja alasan saya. Ketika ternyata saya malah menikmati pesta bersamanya, saya tak dapat menjelaskannya. Ini terjadi begitu saja, saya bahkan tak pernah membayangkan pesta saya bisa dihadiri orang selain saya.
Ketika dia terlibat didalamnya, saya diam saja. Tersenyum dan tertawa melihatnya bertingkah memeriahkan pesta, memasang lebih banyak balon dan pita, menambah warna dimana-mana, menggabungkan musik saya dan musiknya, mengajak saya berdansa bersama.
Dan lihatlah saya!
Bahagia dengan yang baru didunia saya.
Labels: jatuh cinta
I'm in a lotta lust..
Percaya tidak, kita bukan hanya bisa fall in love, tapi ternyata juga bisa fall in lust. Haha, tadinya saya juga tak menyangka.. this guy i've met, Gosh! So hot.
He's not a type of mine, not even close. Tapi setiap saya melihatnya, terbakar rasanya. Yes, he's that hot.
Penasaran. Pertama kali bertemu, itu yang ada dipikiran saya. Bad boy, dengan segala gaya sok cuek-nya, dengan pesona bahan pembicaraan yang dia lontarkan, dengan cara tertawanya yang lepas, dengan rokok yang tak pernah lepas dari tangannya. Saya tergoda. Tak tahan untuk tak mengenalnya. Dan ternyata, semakin saya kenal, semakin penasaran saya dibuatnya.
Mysterious person. Bayangkan saja, dia tak pernah sekalipun bercerita tentang keluarganya. Not even once! Saya tau, ada yang tak beres disana, tapi siapa yang peduli? Saya hanya tertarik padanya, tidak tertarik pada yang lainnya. Ya maaf saja, dari awal saya memang penasaran ingin menaklukkannya, menjadikannya ada dibawah atau dibelakang saya. Oops, maaf lagi. Kejujuran memang bukan anggota badan sensor blog ini, jadi nikmati saja lah ya?
Someway, akhirnya saya bisa menguasainya. Dugaan saya tak salah diawal jumpa, he's a s** god! Mengutip dari buku yang saya baca: he's a sinfully delicious! Ah saya jatuh cinta. Bukan padanya, tapi pada apa yang dia perbuat pada saya. I'm in a lotta lust. So deeply falling in lust. Gila kedengarannya pasti, tapi jika kau bersiap untuk menghujat, bayangkan dulu orang seperti dia datang ke kehidupanmu. Hmmm, tetap tak tahan untuk mengatai saya? Berarti kau tak pernah punya seseorang yang begitu hebat diranjang dan memujamu habis-habisan.
Hehehhehehe... saya hanya bisa tertawa kalau begitu adanya.
Dunia saya jadi indah kembali, kami saling memuja dan memuji. Rasanya seperti bersama dalam dosa besar ini. Berdua menjadi iblis yang paling hina di bumi.
Tapi, tunggu sebentar, apa ini?
Ah! kenapa dia harus menulis kata-kata seperti itu dalam smsnya pada saya?
“aku sayang kamu”
....saya hanya ingin menikmati, sayang.. bukan dimiliki.. Diam saja lah, dan nikmati hidup ini.
Kapan kita kesana lagi?
Labels: s*x and the city
My life is none of your business..
Saya dikirimi e-mail dari seseorang yang sedang mengalami sakit hati. Masalah klise bagi saya. Beda agama, pacarnya bertemu perempuan lain yg lebih menarik (plus seagama), lalu dia ditinggalkan. Klise. Sangat klise.
Coba baca penggalan e-mail yang ditulis oleh perempuan pathetic itu untuk saya..
“...dan dia dah bersumpah mandul kalo dia lebih cinta ke aq dari R***, dan aq tau R*** sebagai pelarian aja”
Yeah..yeah.. mau dia sumpah mandul atau sumpah pocong, dia tetep lebih milih R*** bukan? Perempuan bodoh.. Pantas lah lelakimu mudah terpikat perempuan lain.
Hahahaha saya jadi teringat, saya juga pernah jadi perempuan bodoh, ditinggal lelaki karena dia lebih enjoy bersama perempuan lain. Tapi otak saya tak sedangkal itu lah, berfikir bahwa menyuruh lelaki bersumpah mandul itu ada gunanya... come on.. what next? Beli tiket kereta ke Jombang untuk mengantri bertemu Ponari?
“aq tau gmn cara hadapi patahhati... paling tidak lebih patah hati km te, karena km dah bela2in pergi kejogja dan km dah melakukan hubungan terlarang. Yah pasti km susah ngelupainnya...”
Woooaa.. ini sudah melewati batas sopan menurut saya. Saya tak pernah berteman dengannya, tak pernah nongkrong bareng, bergosip di telepon, atau saling bertukar masalah termasuk masalah sex. Hah! Who the hell she think she is? Let's go find out..
Oh! by the way, kalau2 dia baca tulisan ini, fyi..lelaki yang pernah saya tiduri bukan hanya yang di Jogja kok Bu, dan saya bukan perempuan sehina itu, yang patah hati cuma karena sex. Oh ya, satu lagi, kapan itu saya menginap dihotel yang sama denganmu, direkomendasikan oleh lelakimu, berdasarkan pengalamannya disitu, denganmu... Hahahahaha!
“aq seorang konselor dan paling tidak segala teori aku tau.. dan aq mau pake jalanku sendiri untuk ngadapi masalahku”
huwahahahaha ini yang bikin saya sakit perut! Dia sebut dirinya konselor, huh? Hanya karena dia bekerja sosial mendengarkan curhat lewat telepon, dia pikir dirinya konselor... Ah. Saya semakin yakin, lelakinya itu sangat tepat memilih keputusan. Siapa yang tahan dengan drama queen seperti itu? (fyi, she doesn't know apa itu drama queen.. sumpah! Dimana dia hidup selama ini ya?)
Sudah deh. Cukup menghujatnya. Tak perlu lah lebih lanjut menghina perempuan hina. Well, patah hati memang bukan urusan yang gampang untuk diselesaikan. Bagi siapa saja yang pernah mengalaminya, mari ramai-ramai mengaku bahwa sakit hati jauh lebih merepotkan dari sakit apapun. Susah cari obatnya. Batu ponaripun belum tentu bisa mengatasinya. Saya akui saja, sebagian besar tulisan saya adalah tentang hati saya yang patah, lalu utuh lagi tiba2, lalu patah lagi, hancur, kemudian utuh lagi. Hebatnya Tuhan Yang Maha Kuasa, diciptakannya entah bagaimana, hanya hati yang bisa remuk lalu utuh kembali.
Labels: s*x and the city
Saya masih tak tertarik dengan komitmen. Trauma saya dibuatnya. Dari awal saya mulai berhubungan dengan lelaki, saya tak pernah tertarik dengan komitmen. Bagi saya komitmen itu tak ada gunanya. Sama sekali tak ada gunanya.
Suatu waktu dalam hidup saya, untuk pertama kalinya saya temukan lelaki yang bikin saya merasa jadi perempuan seutuhnya: cengeng, dan berhati. Ya, berhati, mempunyai hati. Percaya pada hati. Padahal tak pernah saya percaya pada hati. Hati selalu membuat realita menjadi bias, bayangannya pun tak kelihatan jika hati sudah berdiri menantang. Saya lebih memuja otak, yang selalu membawa saya pada jalan yang benar. Jika sudah otak yang memutuskan, saya tak pernah menyesal menjalani sesuatu. Tidak seperti saat saya berhati. Saya menyesali, sampai saat ini.
Hati yang menggoda saya untuk percaya padanya, dan dengan bodohnya saat itu saya ikut saja. Hati merasa saya cinta pada lelaki itu, lalu berbisik pada saya untuk memulai sesuatu yang baru, membujuk saya agar pelan-pelan merubah mind-set yang selama ini dikuasai otak, memanggil harapan untuk berkolaborasi membius saya.....untuk berkomitmen.
Saya pasrah saat itu, saya ingat benar, hati tertawa. Mengubah background hidup saya yang tadinya hanya hitam, putih dan merah (simbol yin, yang, plus fearless menurut saya) menjadi penuh warna dan bunga. Saya bahagia. Berterima kasih pada hati yang bisa berbuat sedemikian indah pada hidup. Tak menyangka, sama sekali tak menyangka ada banyak warna lain dalam dunia.
Tapi...
ketika kenyataan tiba2 muncul, menunjukkan pada saya bahwa ada perempuan lain yang meratui hidup lelaki saya saat itu, hati membuat saya sakit! Hati bikin saya menangis berjam-jam, diam tak bergerak bermenit-menit, kesakitan merasakan akibat perbuatannya pada saya. Lalu harapan, yang tadinya selalu bersama hati, hilang pergi begitu saja. Melepas semua tanggung jawab yang sudah diperbuatnya. Saya tak sempat menoleh padanya, tak sempat saya perhatikan, apakah harapan meninggalkan saya sambil tertawa keras, mensyukuri saya yang terperdaya.
Saya tak mau lagi percaya pada hati. Tak akan! Tak juga akan memberikan kesempatan pada harapan untuk mengujungi saya meski hanya untuk sekedar menyapa. Huh! Tak usah saja. Saya akan baik saja dengan otak dan realita. Saya tak mau tertipu untuk kali kedua.
....kemarin, ada lelaki yang mengajak saya berkomitmen. Saya lihat ada hati dan harapan tersenyum manis bersamanya. Saya langsung muak. Bukan karena lelaki itu, tapi karena melihat senyuman hati dan harapan. Saya usir mereka, saya tak mau berjumpa.
Entah apa yang dirasakan lelaki itu saat saya bilang tak mau berkomitmen dengannya. Yang penting, saya masih bersamanya. Tanpa hatipun, saya bisa bahagia.
Labels: patah hati